Senin, 21 September 2009

Thanks to Communication Technology



Lebaran identik dengan silaturahmi.

Bagaimana tidak?
di saat kehidupan sehari-hari tidak memungkinkan fisik untuk bersua,
di saat jarak dan waktu serta kesempatan belum bertemu untuk mengikat tali silaturahmi..

Seperti tahun-tahun sebelumnya..silaturahmi menjadi agenda prioritas dari keluarga saya..Terlahir dari dua keluarga besar menjadikan momen lebaran begitu berkesan setiap tahunnya.. Ada kerinduan yang terlampiaskan saat bisa bersua dengan saudara, teman, sahabat, keluarga yang telah lama terpisah

Tapi tetap saja ada satu dua anggota keluarga yang tidak bisa hadir walau telah terancang (dengan capeknya..he..he) acara akbar Halal bi halal keluarga besar ( kayaknya tradisi ini hanya ada di Indonesia deh).

Dulu kami hanya mengandalkan kartu lebaran atau telepon untuk wakil diri dalam berkomunikasi. Zaman yang berkembang melahirkan teknologi2 baru yang makin canggih dalam berkomunikasi. Contohnya saat saya berkunjung ke rumah pakde saya di Mlinjon.

Anak-anak beliau yang udah gede2 kumpul semua (jarang-jarang lho..mengingat semuanya berpencar dengan suksesnya ke seluruh Indonesia). Hanya ada satu yang sedang bermukim di negerinya Fujiko F Fujio mengikuti suaminya yang sedang studi S3 disana.

Lucunya di dekat meja kamar tamu terbuka laptop yang sedang connect dengan berbagai aplikasi jejaring sosial seperti twitter, fb, ym dan lain2. Jadinya saya dan adik sibuk mengajari ayah dan bunda (berasa judul majalah..he) berkomunikasi via webcam untuk mengetahui kabar terbaru keponakan mereka.

Tiba-tiba dalam benak saya terpikir, gimana ya kalo silaturahmi lebaran semua diganti via dunia maia (of course not mulan..:p ) aja ya?

Ada keuntungannya:


  1. Hemat dalam biaya dan ongkos (harga tiket pesawat gak bersahabat banget..kira2 kek, tapi Air Asia save my day..he)

  2. Tidak ada rasa gak enak ati capek basa-basi (apalagi klo berkunjung ke rekan keluarga yang mengharuskan jaim terjaga sepanjang acara)

  3. Irit dalam hal menyediakan konsumsi ( secara kalo silaturahmi kan kudu ada makan2nya ye..)

  4. Gak repot nukerin duit baru yang gres. Anak kecil zaman sekarang udah melek duit aja, dikasih yang mirip duit monopoli (tau dong sama duit baru) malah bilang "om yang biru aja tuh" (sambil nunjuk gusti ngurah rai) ato "yang dollar juga boleh"(sambil nunjuk lembar 5 dollaran satu2nya yang jadi jimat di dompet..). Sapa sih yang ngajarin..Dezigh..
Ada juga kerugiannya (baca kekonyolannya)


  1. Gak bisa kuliner dari door to door (Yah apalagi makanan ala desa asli plus kerupuk tanpa msg di tempat eyang buyut nun jauh di gunung sana..he.always ngangenin.)

  2. Lagi asik2 minal aidzin tiba internet2 connection error or lemot.

  3. Kurang sah ya kalo gak cipika-cipiki

  4. Udah gak dapet angpao lagi (hal ini gak berlaku lagi buat saya.. tapi ada solusi transfer kan..)

  5. Mati lampu (ini mah langganan klo di metro..emang PLN nya gajebo)
He..he..cara tradisional tetep lebih berkesan kok.

Note : for my big bro yang hari ini ulang tahun...Wish u all de best.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar