Rabu, 18 November 2009

THE PIANIST



Music was his passion

Survival Was his Masterpiece.....

Mati lampu….so pathetic, mati gaya deh…Beginilah kalo hidup di propinsi yang belum merata..

Maksud kalimat saya di atas adalah berkaitan dengan salah satu kebutuhan pokok sejuta umat di dunia.ya…Listrik. Sampai dengan 2 tahun lebih saya hidup dan bernafas di propinsi paling ujung di Sumatera ini, masalah dengan byar pet adalah biasa..(Gila gak tuh, saat Negara lain sudah mulai mikirin bagaimana bisa mendaratkan manusia di belahan planet lain, kita masih dihadapkan dengan masalah yang itu2 aja)

Kalo di kosan saya gensetnya nyala, saya lumayan bisa bernapas lega. Walaupun belum maksimal dalam menyalakan semua piranti elektronik di kamar, paling tidak saya bisa menyicil membaca tumpukan buku yang belum sempat terjamah karena kalah dengan FB, Twitter, Ipod atau P990i di waktu senggang.

Apalagi kalo penghuni kosan tinggal segelintir orang karena berbagai keperluan, makin berkuranglah saingan saya dalam mendapat pasokan listrik dari sang Genset sakti. So, nonton DVD adalah pilihan utama.

Malam ini saya mencoba menonton DVD original keluaran PT Duta Cahaya Utama seharga Rp15.900,- (coba Film2 baru..harganya juga sekian…makin males deh beli bajakan..he..he). Judulnya The Pianist.

Kisahnya sendiri diadaptasi dari autobiografi Wladyslaw Szpilman, seorang pianis di Polandia yang menceritakan kegigihannya dalam bertahan hidup dalam perang Dunia II. Sepanjang pendudukan Nazi yang brutal (Gambar kekejaman perang di Film ini memang lumayan sadis, tanpa memandang SARA, saya tetap berkeyakinan bahwa perang mengorbankan hak asasi hidup rakyat biasa, hanya untuk kepentingan segelintir penguasa biadab tak berperikemanusiaan)

Anda dapat menikmati Film yang disutradarai oleh Roman Polanski ini dengan leluasa tanpa mengernyitkan dahi karena alur atau jalan cerita yang rumit..Akting Adrien Brody yang memukau mampu membuatnya menggondol salah satu dari 3 Oscar yang diraih Film ini di ajang Academy Award 2002. Suasana perang tahun 30-40an pun cukup detil, bahkan sampai jenis kendaraan atau senjata yang dipake.

Untuk DVD nya sendiri, dengan harga yang dikeluarkan dibandingkan kualitas yang didapat bisa dibilang memuaskan. Walaupun tidak ada feature2 menarik layaknya DVD premium yang harganya berkali2 lipat.Bagi saya asal Gambarnya tajam dan subtitle Indonesia maupun Englishnya sempurna…cukup membuat mata focus pada layar sampe teman yang memanggil dari luar kamar pun terabaikan..he..he

Notes: Saya punya dua DVD original Film ini..bagi yang berminat dapat menghubungi saya. Rencananya salah satu dari DVD ini saya jual yang hasilnya 100% akan saya gunakan untuk amal Mujahid di medan Perang.. ^^V)

Rabu, 11 November 2009

Tour de Anyer-Cilegon



Hari Jumat malam tgl 6 November 2009 pukul 09.30 pm adalah waktu yang disepakati oleh kami ber-8 (saya, zainal, bro, yus, anang, ryan, aik, dan aziz) untuk memulai tour de Anyer-Cilegon. kami berangkat dengan akomodasi 5 motor yaitu : Supra, Mega pro, Pulsar, Vixion, dan Tiger --what a great combination..he..he--



Ketika sampai di suatu SPBU di daerah Kalianda, kami rehat sejenak sambil melemaskan pantat yang agak kram...:p sekalian menuntaskan panggilan alam di toilet setempat



Memasuki pelabuhan, kami membayar rupiah sejumlah Rp 28.000,- per motor dan menghabiskan waktu di dek atas. Berhubung agak lelet nih jalannya sang kapal, masing2 anak beraktifitas sendiri2 untuk membunuh waktu.. Ada yang dengerin Ipod, baca Rolling Stone edisi cover Madonna, pose sambil foto narsis gak jelas,..sampai kegiatan klasik...Molor..

Akhirnya kami sampai di tempat singgah kami (saudara di komplek perumahan Krakatau Steel) ketika Adzan Subuh berkumandang.

Sekitar pukul 09.00 pagi, kami berangkat menyusuri jalan legendaris Anyer-Panarukan yang membuat nama Gubernur zaman Hindia Belanda: Daendels menghiasi buku2 mata pelajaran Sejarah Nasional waktu SD hingga SMU. (eh...btw Daendels apa JP Coen sih?..atau jangan2 Rafles lagi..maklum Nilai sejarah dulu agak mengkhawatirkan..he..he)



Dengan begitu banyak pilihan pantai di daerah Anyer, Bro yang telah berpengalaman ke Anyer sebelumnya memutuskan pergi ke pantai yang terletak di ds Bendulu kec Rancalembang..

Gerbang masuknya sih melewati gang senggol gitu saking sempitnya. Gang tersebut diapit oleh hotel mewah. Awalnya sih Geer melihat depan hotel yang keren...ternyata kami cuman lewat doang..he..he (gak papalah...minimal kami udah foto2 dengan background bangunan hotel).

Tiket masuknya murah abis lho...cuman Rp5.000,- per motor...itupun dikelola masyarakat setempat untuk pembangunan Musholla Al Ikhlas di desa tersebut (kok saya sebegitu tahunya?..yah...mengingat kebiasaan saya menyimpan memorabilia traveling-- teman saya menyebutnya suka menyimpan sampah -- info tersebut tercetak di Karcis Tanda Masuk warna Pink di Kertas HVS ukuran 5x20 cm.)








Begitu sampai pantai, saya agak spechless sejenak melihat pemandangan pantainya. Masih bagusan pantai2 di Lampung sih...tapi apa pun kondisinya, saya selalu terbius dengan pemandangan pantai. Apalagi suasana Bangunan Hotel di sepanjang mata memandang belum dapat ditemui di Lampung.

Berhubung sudah gatal merasakan asinnya air pantai, dan setelah nitipin barang bawaan di warung terdekat, kami buru2 langsung bermain air pake papan seluncur sewaan 5ribuan warna-warni. dari mencoba bergaya dan beraksi ala penjaga pantai...sampe perang pasir basah. Kayaknya Masa Kecil Kurang Bahagia adalah ungkapan yang tepat bagi kami ber-8..^^

Rasa capek dan lapar langsung menyerang setelah beberapa jam bermain.. Mie ayam dan kelapa muda yang dipesan langsung ludes tanpa tedeng aling2...bahkan tanpa bersihin badan terlebih dulu..he.he



Kalo mau bawa souvenir, rasanya semua kios menjual kaos souvenir dengan kartun yang lucu plus harga yang terjangkau. Saya sendiri beli celana pendek garis2 biru muda seharga Rp15.000,- (lumayan....kainnya enak buat tidur)






Fasilitas permainan di pantai ini standar pantai2 lain sih. Ada ATV, Banana boat, atau kalo iseng nyoba motor air (istilah yang diberikan oleh seorang teman saya di Magelang)






Anda khawatir terjadi sesuatu yang tidak diharapkan ketika asyik bermain di pantai? Tim SAR yang berseragam Oranye Hitam siap siaga selalu untuk membantu. bahkan kami dizinkan untuk mandi di kantornya. sholat pun kami lakukan di Atapnya yang juga berfungsi sebagai gardu pandang. Sayangnya personil SAR layaknya artis2 Baywatch tidak kami temukan. Mungkin kalo ada malah gak pulang ya..:O --pikiran kotor kudu dicuci mode on--



Motor dijejer sebelum pulang...kami pun berpose sebagai bukti bahwa tagline "Anak rantau di Metro was here" telah tertera di tanah dan air Pantai anyer.





Pulang dari pantai kok masih Laper? Rumah makan Asmawi di tengah perjalanan balik ke Cilegon menjadi saksi kerakusan kami.. Sate Kambing, bebek dan ayam merupakan menu yang dipesan.. Selain itu tersedia Sate kerbau dan sate ati...

Sore menjelang malam, perjalanan dilanjutkan untuk menjelajahi Kota Cilegon. Kota yang mengandalkan Industri sebagai sektor unggulan ini sebenarnya cuman membutuhkan waktu 15 menit untuk mengitari kotanya.. kami memilih Cilegon 21 di ramayana untuk memulihkan tenaga sekalian istirahat setelah seharian bermain di pantai..Saya sampai tertidur di sofa bioskop. Entah karena kecapekan atau karena boring dengan jeleknya film "Perjaka Terak***" (Gila rasanya sayang banget ngamburin 8 tiket... Tahu gitu mending "Serigala Terakhir" atau lihat Wulan Guritno di "Ruma Maida" deh)




Malam mingguan kami habiskan di Palm Hills..suatu kawasan perumahan perbukitan yang terletak dekat Krakatau Steel yang jadi tempat gaul dan hang out anak muda di Cilegon. View langit malam dengan kerlap-kerlip lampu perkotaan Cilegon di kejauhan membuat tempat ini istimewa. Tempat gaulnya sendiri seperti food Court di tempat terbuka. berbagai makanan dan minuman yang tertera di belasan lembar menu tersedia di meja.Kalo kita mau pesan kita tinggal mengacungkan menu..pelayan di gerai yang menunya kita angkat langsung buru2 datang...(he..he heran juga dengan kecepatan mereka mengenal menu mereka masing2)

Banana split, blueberry pancake atau beragam juice adalah contoh menu yang tersedia...Salah satu menu unik lainnya adalah Shisa...Rokok ala Arab yang dicoba dipesan oleh Yus dengan aroma bubble gum..Apel, melon, dan capucino adalah aroma unik lain yang saya ingat..Shisa cukup anda tebus dengan harga Rp20.000,-. (Jadi ingat punya Shisa oleh2 dari Mesir di rumah...selama ini cuman jadi pajangan di kamar tamu tanpa tahu cara pemakaiannya)



Hari Minggu pagi kami memutuskan untuk kembali ke Metro tercinta...sebelum menyebrang ke Sumatera, Pemandangan di sekitar pelabuhan Merak mampu membuat kamera2 saku menjalankan aksinya untuk memuaskan hasrat narsis empunya..:P



Dalam penyebrangan di Selat Sunda, Ruang AC Rp 4.000,-menyejukkan dan menghibur dengan tayangan Mission Imposible di stasiun HBO...(Jarang2 nih...biasanya drama kolosal zaman Susanna Menjadi langganan).. Sambil nonton, pop mie dan Indocafe menemani perut yang sering keroncongan padahal udah sarapan bubur ayam. Mulut agak ingin misuh2 setelah mengeluarkan Rp.30.000,- untuk 2 pop mie, satu kopi dan satu aqua gelasan...Gimana tidak? Aqua gelasan dengan harga 4 lembar seribuan....--mikir2 lagi lain kali--




Sebelum kapal merapat di Bakauheni, bergaya dulu ala Leonardo di Caprio di Titanic...



Touring pake motor kali ini diakhiri dengan melewati jalan lintas timur (duh saking sepinya berasa di jalan tol)...Glompong 005 adalah rumah makan di Way Kambas yang kami singgahi...rasanya waktu berlalu begitu cepat...

Alhamdulillah pukul 05.00 sore kami tiba dengan selamat di Metro dan siap untuk kembali menjalani hari untuk bekerja kembali setelah otak kembali fresh dengan perjalanan 2 hari yang menyenangkan.

Notes: to Pakde Dur sekeluarga, thanks for everything....

Kamis, 05 November 2009

PESTA DUREN LAMPUNG



sang buah simalakama...



bargaining moment....





with duren maniak

Wueh.... pesta duren di Lampung telah tiba. Jadi antara bulan Oktober sampai dengan Januari yang merupakan puncak Musim Duren...(ini menurut penjualnya lho..) anda dapat dengan mudah menemui penjual duren di kanan kiri jalan umum...

Sebenarnya pusat jualan di Lampung terdapat di Jalan Raden Imba Kusuma atau Jalan Way Halim Bandar Lampung. Bahkan di daerah sana yang bernama kawasan Sukadanaham berdiri tegak tugu Durian...Hm..Berhubung saya tinggal di Metro, anda dapat menemui sang penjual buah simalakama ini di Jl Jend Soedirman dari abis Ashar sampai dengan tengah malam. Simalakama? ya karena sejak kecil saya sekeluarga aman-aman saja menikmatinya, sementara tetangga di sebelah yang kebetulan juga Bude saya beserta keluarganya sangat antipati dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan duren. Ibarat kata dibayar untuk makan aja ogah...jadi kami kalo abis pesta duren, pasti bersibuk ria membuang kulitnya jauh2 minimal 10 km dari rumah kami..he..he..he....(okay...itu lebay... yg bener 2 km ding ^^V )

Saya sendiri sebenernya gak begitu hobi dengan duren...karena ada 2 temen kosan yang sering banget gerilya malam cari duren, akhirnya tergiur juga untuk ikut... Kedua temen saya ini kayaknya gak bosen deh dengan yang namanya duren. Terbukti selain sering gerilya malem cari duren, ketika mudik lebaran kmaren mereka mau bersusah payah bawa duren.. hah? nenteng duren tajem2 gitu masuk pesawat? bisa lulus sensor di bandara ya....untungnya cara bawa mereka tidak seperti dalam bayangan bego saya. Cukup dengan tupperware, beberapa gelondong duren aman dan selamat sentosa sampai Semarang atau Jember..he..he..Berarti isinya doang neeh...Padahal kan sensasi makan duren ada waktu membelahnya ya..hi..hi..hi dezigh....

Akhirnya malem ini jadilah kami ber4 mulai bergerilya....setelah nemuin tempat yang kami rasa tepat, mulailah kami menawar...satu buah duren dipatok di harga Rp.10.000,-...kalo pas lagi musim2nya bisa 5000an lho...(ngiler dot com deh buat yang hobi..) Setelah ditawar jadi 25ooo untuk tiga buah... (kayaknya bawa nyokap pasti sangat berguna dengan segala bargaining powernya..he..he maklum beliau orang pasar).

Sambil ditemenin lagu "Belah Duren" nya Jupe di Ipod (Kalo ditanya orang bilang aja lagi denger "3" nya Britney..mirip kan? --sambil nglirik s**n*o--) kami sibuk makan isi duren yang berwarna kuning tembaga itu...Untuk rasanya sih kayaknya untung2an deh ada yang pas banget manisnya ada yang tidak tergantung pinter2nya kita milih...Yah kata temen sih emang gitu kalo beli di jalanan karena biasanya yang bagus2 udah dibooking di supermarket...(Nah lho bisa dibooking? ya...bahkan bagi petani duren, bisa menentukan bagus tidaknya buah durian selagi masih di pohonnya..selain itu curah hujan juga pengaruh bagi pohon duren karena bunga duren bisa rontok kalo kebanyakan ujan jadi produksi menurun--masih menurut tetangganya Zainal yang kebetulan juragan Duren--)...Tapi gak selalu begitu juga deh. Menurut si Indra (memang nama sebenarnya...sang maniak duren:p ) tergantung penjualnya karena dia punya langganan yang pasti manis dengan duren pilihannya walopun lebih mahal dikit....sayangnya malem itu sang penjual lagi gak jualan...

Oh iya....iseng2 saya bertanya ke penjualnya.. "Ini duren jenis apa bu?" dengan entengnya dia menjawab"ya duren Lampung...tapi asalnya dari Bengkulu..."(???)

okelah.. lupakan kebingungan saya yang penting saya bisa mendeskripsikan duren yang kami nikmati malem itu: kecil, tapi buahnya tebal kekuningan dengan biji yang kecil. Rasanya manis...hm...nanti deh kalo saya sudah expert dengan duren jenis lain seperti monthong, duren bengkulu, duren petruk, duren sunan atau duren bangkok pasti dengan detail saya bisa beritahu bedanya...he..he..

Akhirnya setelah puas pesta, kami mengikat duren di motor untuk dibawa pulang sesuai pesenan Mamak aka ''Landlord'' kami...



Minggu, 01 November 2009

KAMPOENG BAMBOE



Bagi yang tinggal atau kebetulan sedang singgah di Bandar Lampung, ada rumah makan yang layak dicoba..namanya Kampoeng Bamboe..(yak betul...dengan ejaan lama :) )

Tepatnya di Jl. Griya Utama No 57 Way Halim Permai Bandar Lampung..Letaknya sih agak masuk ke dalam komplek perumahan...tapi masih gampang dilacak. Asal ada orang di pinggir jalan...tanya aja deh..kayaknya lumayan terkenal, terbukti dengan sekali bertanya pada kios koran pinggir jalan (sekalian beli holy book... :baca cinemags:...^^v ) lokasi sudah di depan mata. 704455 adalah sederetan angka yang bisa dipencet di nexian berry kamu apabila ingin booking tempat...




Dengan pramusaji yang ramah ala senyum Singapore airlines... berpakaian poloshirt merah (mirip pegawai KFC gitu...) siap melayani dan mengantar anda ke berbagai tipe bilik makan yang telah tersedia...(ada Teratai, flamboyan, melati, dahlia, cempaka, sakura dan anggrek..hm jadi inget tipe2 ruang di RS Mardi Waluyo...he..he..he)





Suasana sejuk kehijauan menyegarkan mata anda...apalagi lagu2 top 80's kayak lagunya Lionel Ritchie, George Michael, Whitney Houston...hingga Kokoronotomo mengiringi kami ke meja peraduan perut..(waktu itu hari sabtu sih, coba aja di hari lain...mungkin ada hari Band Lampung, hari campur sari, atau hari slow rock ala lagu Isabella nya Search...he..he asal gak ada disko pantura atau pop tarling aja ya...berasa gaul ama supir2 truk :p )



Bilik yang bersih dengan tatami bujursangkar coklat menjadi pilihan kami (gampanya sih lesehan gitu...Tipenya kalau gak flamboyan ya teratai deh...)



Untuk pilihan menu makanannya sih bermacam2 berbagai macam olahan laut seperti kepiting, udang, bawal ikan ayam /kambing (penasaran kan dengan namanya..hm..rasanya kayak daging ayam atau kambing gitu..jadi bukan bentuknya..he..he) atau olahan ayam seperti ayam penyet cabe ijo bakar, ayam kalasan atau chicken steak ada di sini. Selain itu puluhan menu lain kayak gurame, sapi lada hitam atau karedok dll mampu membikin bingung orang yang pesan.

Minumannya sendiri sih macem2 juga. Es cincau lidah buaya, es mega mendung atau berbagai pilihan juice seperti Blimbing/Timun atau Snow white juice patut dicoba. bahkan bandrek atau wedang jahe sampai teh poci gula batu ada di sini.

Review dari Tim ahli "Pemburu Kenikmatan" dari metro:
  1. Untuk suasana sih oke ya...bersih, teduh, syahdu...cocok deh buat event2 tertentu..:). Untuk keluarga yang punya anak kecil ada ayunan dan alat2 permainan warna-warni.
  2. Karena kami menganut "Rasa adalah segalanya"....makanan di sini apabila dibandingkan dengan resto sejenis di Bandar Lampung seperti GM atau RK gak kalah deh...bahkan kami memuji bumbu Kepiting Saus Padang atau segarnya Lidah buaya.
  3. Last but not Least is "The Price" (Paling Penting deh kayaknya)...affordable abis. Bahkan bagi kami yang "Kalo ada undangan makan2 gratis apalagi di resto jangan ditolak" minded, merasa worthy makan di sini
  4. Tapi kami cukup menunggu lama lho makan disini..entah deh apa karena kami terlalu pagi datengnya mengingat suasana masih sepi atau waktu pesen gak bilang "Gak pake lama ya Jeung..."---ibu2 arisan mode on---. Sampai2 waktu makanan dateng langsung diserbu dan lupa untuk didokumentasikan.
  5. Over all....patut dicoba...



Tim ''Pemburu Kenikmatan'' yang kelaparan...^^

Selasa, 27 Oktober 2009

Emak Ingin Naik Haji














Sejak SLTP, saya telah banyak membaca novel, epik, komik atau cerpen yang bernuansa Islam..Bermula dari pinjem majalah Annida dari saudara sampai menabung untuk beli buku bahkan bekas sekalipun. Dari Annida saya mengenal nama-nama terkenal seperti Helvy Tiana Rosa, Muthmainnah atau Asma Nadia. Karya2 mereka membuka mata saya bahwa cerita Islam itu tidak melulu tentang surga dan neraka. Gambaran yang mengerikan dari komik2 islam ala jualan abang2 di bus jurusan Jogja-Solo pun (maklum sering dibeliin nyokap..he..he) sirnalah sudah..

Masa SLTP pun menjadi masa transisi dari bacaan SD saya seperti Majalah Bobo, komik (Tintin, Smurf, Asterix, Astro Boy, Lucky Luke), tabloid Hoplaa ( sering ada bonus poster kartunnya...ada yang masih inget gak?..^^) dan novel petualangan karya Enid Blyton semacam Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu atau Trio Detektif....menjadi bertambah genre dengan bacaan Islami..Apalagi kondisi sekolah saya adalah boarding school/ modern pesantren...Makin lengkaplah referensi dari lingkungan sekitar..

Dari bacaan Islami yang waktu itu masih langka, saya dapat banyak hal. Mulai dari pencerahan (halah..bahasanya..hi..hi) atau terkejut-kejut seperti ketika beberapa teman cewek saya di SMU mendapatkan hidayah berjilbab setelah terharu berat membaca kisah Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa (bukunya masih ada lho...udah lecek setelah berpuluh kali berpindah tangan..:)

Yah..sekarang sih di toko buku sudah membanjir buku2 fiksi Islami. Bahkan yang mega best seller hingga difilmkan seperti Ayat-ayat Cinta (Menghibur tapi lebih milih bukunya..). atau Ketika Cinta Bertasbih (duh belum nonton sih...embel2 asli Mesir bikin penasaran juga..he..) Sepertinya penerbit bonafid sudah tidak ragu lagi untuk berlomba-lomba membuat lini fiksi Islami dalam terbitan mereka...Sesuatu hal yang sudah berkembang dengan baik satu dekade ini. Toko buku pun sudah memajangnya di bagian best seller dan bersebelahan dengan buku bermutu lainnya

Ketika kaki melangkah di toko buku Gramedia beberapa hari yang lalu, saya menemukan buku yang dipajang paling depan menyambut calon pembelinya...Foto ibu tua berjilbab lusuh serta Tulisan warna biru muda tertera di bagian cover dan terbaca "Emak Ingin Naik Haji"...cinta hingga tanah suci..

Awalnya sih gak tertarik...tapi nama Asma Nadia mampu membuat saya memasukkannya dalam kantong belanja. Apalagi diembel2i dengan "Saksikan di Layar Lebar..A Film by Aditya Gumay" dan 100 % royalti untuk sosial kemanusiaan.

12 kumpulan cerita dalam buku ini mampu menyentuh kalbu...Ada tiga cerita favorit saya:
  1. Emak Ingin Naik Haji.......saya setuju dengan pernyataan Reza Rahadian, Pemeran Zein dalam Film dari cerpen ini--Emak Ingin Naik Haji adalah sebuah cerita sederhana yang membuat kita menyadari arti penting sebuah perjuangan hidup, dan membuat saya semakin mengagumi dan mencintai sosok ibu-- Gaya penceritaan yang multitokoh dan multikonflik (mengutip pernyataan Republika) mengingatkan kita pada Film Babel yang dibintangi Brad Pitt. Kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya secara gamblang terlihat dalam cerpen, di mana ada pihak yang begitu menginginkannya berhaji tapi tiada biaya, sementara di sisi lain ada pihak yang begitu mudahnya berhaji berkali2
  2. Sepuluh Juta Rupiah.......membuat saya makin menyadari statement " don't judge a book by its cover" (sering saya tambahin sendiri..do by its price..he..he). Tokoh Oman dan Sri sekeluarga mampu menutupi sangkaan orang mengenai kehidupan elit mereka..suatu sindiran sempurna bagi mereka yang menganut "Trying hard to be somebody" dengan memperlihatkan mereka mampu punya ini itu dan show off dalam kehidupan sehari-hari.. (yah..rumah mewah atau mobil keluaran terbaru..^^) Masyarakat yang selalu ingin tahu dan bergunjing tentang tokoh utama pun mampu menggambarkan kondisi riil sekitar kita yang selalu bergosip dan cenderung "ngomongin orang di belakang"....
  3. Cinta Laki-laki Biasa.........hm...istilah saya bagi tokoh Rafli dan Nania adalah "unconditionally love"..(they really deserve it...:) ceritanya tentang sosok Nania yang digambarkan ideal segala sesuatunya mendapatkan suami Rafli yang S3 (sangat standar sekali) sebagai laki-laki dan bagai langit dan bumi perbandingan keduanya...Dan orang2 yang mempergunjingkan mereka tidak akan pernah tahu bahwa Nania sangat dan akan selalu bersyukur mendapatkan Rafli dalam kehidupannya dan jawaban keyakinannya dengan pilihan dan waktu tepat dengan jodohnya akan berakhir dengan indahnya seiiring berjalannya waktu (Hiks...hiks..terharu nih....)
Yah jadi gak sabar nunggu Filmnya..Dalam bayangan saya Sepuluh Juta Rupiah difilmkan juga dengan gaya film "Ketika" Deddy Mizwar...dan Cinta Laki-laki Biasa bisa difilmkan dengan gaya film "Love". Filmnya sendiri akan dibintangi: Niniek L Karim, Didi Petet, Reza Rahadian, Aty Cancer serta Runner up 2 Puteri Indonesia 2009 wakil Maluku Utara...Ayu Pratiwi.

Note: For my Parent....semoga lancar segalanya...Amien Ya Rabbal'alamin..

foto diambil dari blognya asma nadia serta majalah madina.



Kamis, 22 Oktober 2009

ORIGINALE VS PIRATE VS DOWNLOAD



Setelah puas jalan2 bersama dan mengantarkannya pulang, saya membelokkan supernova ke arah bangunan dengan tulisan "Ultra disc" dalam box menyala berpendar kekuningan di kegelapan malam..

Yah...salah satu spot favorit saya di kota ini adalah rental VCD Originale (walaupun tak jarang meluangkan waktu ke rental DVD yang beraura Glodok)...Karena yang asli menyuguhkan subtitle bahasa ibu dengan sempurna sehingga dapat memahami alur film dengan nikmatnya tidak seperti yang pirate yang menjanjikan subtitle indo tapi yang keluar bahasa planet milik negeri jiran...atau sok-sokan pake English tapi kata2 yang keluar beda dengan pengucapan tokohnya.

Begitupun kalau kita download film...ada file yang berformat srt tapi belum tentu memudahkan karena untung-untungan dapat kualitas tata bahasa yang baik...paling sempurna sih dapet downloadan yang ngopi dari yang originale..puas, murah, meriah, senang :)

so...keputusan tetap di tangan anda dalam menikmati film...semua punya kelebihan dan kekurangan.

FYI: yang murah format DVD dan originale...sekarang tersedia dengan harga 15.000..biasanya keluaran TOP movie entertainment atau Gramedia pun sering ngadain sale hingga harga vcd original yang 50.000 bisa turun drastis jadi 5000 --kemarin dapet Great Expectation nya Gwineth Paltrow cukup 10.000 saja--..( lumayan sering beli walau masih mimpi beli paket box Godfather dan Band of Brother yang harganya ratusan ribu itu...^^)

note: this review dedicated to "Lampung Tax Movie Club"

Sabtu, 17 Oktober 2009

MERANTAU







Apa jadinya budaya olahraga tradisional Indonesia digabung dengan tradisi yang mengakar dalam masyarakat Minangkabau dalam palet seni berwujud Film?...Jawabannya adalah MERANTAU.

Pilihan menonton Film Indonesia hari ini (bukan Film barat--istilah selain film Indonesia tidak peduli India,Perancis, atau Hong Kong-- kalau merujuk pada pernyataan pengelola bioskop metropole di Chandra superstore Metro City--) adalah tepat dan pasti kalau menonton di jaringan bioskop "selikur" di Central Plaza Bandar Lampung akhir2 ini. Gak tau deh.... dari 4 teater semua dirajai hasil produksi anak negeri. Bangga?..atau miris karena sering tidak berkesempatan melihat made in Hollywood. Merantau pun sudah diputar berbulan yg lalu di Pulau Jawa...Apapun itu saya bersyukur karena dari Februari 2008 sampai pertengahan tahun ini di bumi Lampung tidak ada bioskop yang representatif.

Akting Christine Hakim menjadi dorongan tersendiri untuk menjadi sedikit "antusias" menikmati film ini pada awalnya. Tapi setelah selesai menikmati sajian apik dari sutradara bule Gareth Evan ini ada sesuatu perasaan nyaman di dada. Perasaan yang hanya datang kalau saya tidak merasa rugi mengeluarkan rupiah untuk menebus sekitar dua jam tempat di sofa beludru merah darah.

Gerakan laga dan setting alam Minangkabau (wuih indah ya...kapan bisa travelling ke sana? dan dalam hati mendoakan bagi semua korban musibah Gempa 30 Sept yang lalu) telah memukau saya...Sudah lama tidak melihat film laga Indonesia yang keren..(kayaknya belum pernah deh..mengingat era Barry Prima dan George Rudy tidak masuk hitungan angkatan saya..he..he).Untuk segi cerita sendiri sih tidak ada adegan yang bikin kening berkerut karena memikirkan hubungan dengan adegan sebelumnya..

Singkat cerita film ini adalah tentang anak muda yang jujur baik hati dan tidak sombong yang masih naif kalo dinilai dari rekan dari daerah asalnya menjalankan tradisi merantau yaitu ''tradisi bagi anak lelaki di minangkabau untuk mencari pengalaman hidup" di kerasnya ibu kota dan malah terseret dalam kasus human traficking untuk mempertahankan nilai yang dianutnya. Film ini sangat cocok dinikmati oleh remaja zaman sekarang yang terbiasa hidup mudah dan nyaman dalam segala hal (Apalagi untuk anak2 Alay...cocok tuh..Gak perlu norak untuk jadi "someone" kan...he..he)

Akting Yuda (Iko Uwais) sebagai pendatang baru mungkin belum secermelang Lukman Sardi atau Nicholas Saputra (dalam ukuran jam terbang dan penghargaan kali ya..penilaian kan subyektif.....), tapi dalam aksi laga saya beri istilah naturally awesome...yah...dia kan emang bisa beneran bela diri. Apa pengaruh sutradara bule (Gareth Evans) menjadikan film ini pas dalam porsinya sebagai film dengan genre aksi laga dalam standar Indonesia ya?..Pastinya anda akan menemukan sesuatu yang beda dari sinetron aksi laga yang dibintangi Roge* Dhan*ar** yang pernah tayang di stasiun TV Indo**** dengan aksi laga yang lebih mirip sirkus karena berlebihannya.

Akhirnya saya merasa cukup puas...keluar dari bioskop (perasaan yang relatif sama seperti habis menyaksikan Pintu Terlarang..) Hanya saja ada hal yang mengganggu...kok ada sih beberapa orangtua bodoh yang mengajak anaknya yang berusia sekitar 6 tahun menonton film ini? Adegan kekerasan dan kata2 kasar dan kotor bertaburan di sepanjang Film ini dan berpotensi menjadikan trauma bagi anak di bawah umur. Mungkin sistem perfilman kita belum ada rating yang jelas seperti di amerika ya, tapi kan ada cap Dewasa di poster film dan flyernya...Gak tau deh..Pihak bioskop pun sepertinya tidak menugaskan stafnya di pintu masuk teater untuk menyeleksi penonton..Sesuatu yang sangat disayangkan.