Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Oktober 2013

Senin, 07 Oktober 2013

Bali Weekend Getaway : Day 1

Penjor, decoration made out of bamboo and coconut leaves

Saya memilih keberangkatan Jumat sore sekitar pukul 03.00 dari terminal 3 Soekarno Hatta International Airport untuk mengejar sunset di pantai Kute. Kepanikan akibat arus lalu lintas weekend dan antrian mengular di check in counter, dapat  dihindari dengan check in via website. Beberapa maskapai seperti Air asia telah menyediakan fasilitas ini. jadi anda bisa santai melenggang ke lantai atas tempat deretan kursi  untuk menunggu waktu keberangkatan. Jangan lupa persiapkan IDR 40.000 untuk airport charge.

Sembari menunggu waktu keberangkatan, teman saya membeli beberapa cemilan seperti brownies atau roti pisang di circle K sebagai pengganjal perut selama terbang (lebih hemat daripada beli di pesawat). Kalau masih lapar, di dekat pintu masuk ada semacam resto cepat saji ayam goreng yang murah meriah

Jarak tempuh dengan pesawat untuk Jekardah-Bali adalah sekitar satu jam. terdapat perbedaan waktu karena Bali menggunakan WITA yang lebih cepat satu jam dari Jekardah. Saya sendiri memanfaatkan waktu dengan membaca Lonely Planet, kitab wajib pelancong di seluruh dunia. Mungkin buku tersebut cocok dengan turis asing. Bagi saya, buku traveling terbitan lokal seperti penerbit kompas atau elex media komputindo lebih terasa pas dan mengena. Lebih murah lagi dengan browsing saja di tante google. Beres.



Kalau anda tiba tepat waktu, langsung saja keluar bandara menuju Kuta Bali. Blue bird telah melebarkan sayapnya hingga pulau ini sehingga mempermudah kita untuk mendapatkan taksi berargo resmi. Angka di argo menunjukkan 25.000 dalam 20 menit dari kami masuk hingga tiba di kawasan Poppies Lane, tempat wisatawan berburu penginapan murah meriah dan paling strategis karena tinggal ngesot ke pantai Kuta.



Kawasan Poppies Lane sendiri terdiri dari dua jalan, Poppies Lane I dan II. Sepanjang jalan terdapat hotel atau penginapan murah meriah. Tak perlu booking  karena kebanyakan sistem penginapan di sini adalah datang dan bayar sesuai banyak hari inap, langsung aja cari-cari dan tentukan mana yang cocok di kantong. Dengan uang sekitar IDR 150.000 hingga 300.000, anda bisa dapat kamar standar dengan AC, air panas dan TV kabel. Tentu saja ada harga ada rupa. Dari berbagai pilihan yang tersedia, saya dan teman memilih Surfaris Inn di Poppies Lane II sebagai basecamp kami selama di Bali. Kalau menurut anda penginapan hanya digunakan sebagai tempat singgah beberapa jam saja karena alokasi waktu yang tidak mau rugi buat dihabiskan di tempat tidur, pilih saja yang paling ekonomis. Dan jangan lupa perhatikan waktu berkunjung kita. Weekend tentu butuh sedikit perjuangan untuk bersaing dengan turis lain. Apalagi ditambah dengan peak season sekitar Juli-Agustus.

http://surfarisinnbali.com/


Setelah kelar urusan tidur, langkah berikutnya adalah pinjam motor buat transport selama di Bali. Walaupun Bali sudah sangat mendunia sebagai tempat wisata, tapi mengenai alat transportasi umum yang murah dan selalu tersedia cukup memprihatinkan. Memang sih ada semacam busway, tapi daripada membuang waktu dengan ketidakjelasan kapan datang dan kesesuaian rute yang ingin kita tempuh, menyewa motor adalah langkah yang paling cerdas. Selain murah meriah, dengan motor kita bisa menyesuaikan dengan waktu dan tempat yang mau kita tuju. Bahkan bisa selip menyelip diantara kemacetan jalan yang sering terjadi di beberapa spot wisata di kala weekend.

Di sekitar Kuta, banyak sekali terdapat rental motor. Dengan kisaran IDR 60.000, anda bisa memperoleh sewa untuk 24 jam. Harga ini tentu berbeda dengan anda yang berniat untuk sewa motor mingguan misalnya. Kebanyakan motor sewaan di Bali adalah matic. Selalu perhatikan kondisi fisik motor. Kalau anda merasa tidak enak ketika mencoba, minta tukar saja. Karena motor dipakai banyak orang, tidak jarang anda dapat kondisi yang tidak layak seperti motor yang susah digas hingga loyo ketika diajak naik di tanjakan seperti daerah Dreamland misalnya. Bahkan motor matic Yamaha Nouvo yang saya pakai malah apes musti ganti ban dalam karena tak memungkinkan ditambal di jalanan Sanur. Penambahan besi modifikasi untuk membawa papan surfing bagi sebagian motor terasa mengganggu apabila anda memang bukan surfer. Minta dicopot saja.Yang terakhir sebelum anda memutuskan sewa adalah perhatikan kelengkapan STNK dan Helm standar.Oh Iya rata-rata rental motor di sini tutup pukul 07.00 malam, walaupun masih ada satu dua yang buka hingga larut malam.

Oke, motor sudah di tangan dan penginapan sudah kelar. Makan malam dimana kita? Kalau sudah malam begini, cari makan yang paling gampang memang di warung waralaba seperti KFC atau McD. Tapi anda bisa menyambangi food court "Eat and Eat" di Beach Walk Mall yang cuman sepelemparan kerikil dari poppies lane. Food court ini menetapkan sistem deposit dengan kartu sebagai sistem pembayaran. Konsep food court  yang unik dengan atmosfir ala Pasar Cina Peranakan Tempo Doeloe, lengkap dengan pernik-pernik teko, baskom, termos yang jadul punya. Papan nama di counternya pake pintu-pintu eks jaman rumah baheula. Makannya khas Cina peranakan, Singapore, Malaysia dan Indonesia. Ada bakmi kepiting Pontianak yang enak banget. Walaupun harganya sangat Mall, tapi masih reasonable dan worthy.


http://eatandeat.yukmakan.com/default.asp


Waktu memang telah beranjak malam, tapi masih sempat untuk sejenak berkeliling dengan motor seputaran Kuta. Melihat keramaian kehidupan malam di Jalan Legian atau menikmati suara debur ombak di Pantai Kuta gratis selama yang anda mau. Butuh camilan, mampir saja di convenience store terdekat. M Mart buka 24 hours dan banyak dijumpai di Bali

around kuta


https://www.facebook.com/yanyoosyrupwaffles/posts/222132611256330



Rabu, 11 September 2013

Bali Weekend Getaway: Preparation



Tahu kan dengan sebuah pulau di timur Jawa yang menyerupai bentuk burung?. Ya, bagi seorang Indonesian, tentu tak asing dengan pulau dewata yang terkadang disebut juga surga dunia saking indahnya. Tak perlu orang kita deh, Turis dari belahan Eropa nun jauh disana juga mengenal Bali. Bahkan mungkin lebih kenal Bali daripada Indonesia, dan tak tahu kalau Bali bagian dari Indonesia.

Bagi anda yang berdomisili di Jakarta, banyak seribu jalan menuju Bali. Mau darat, laut, udara atau gratisan sekali pun mungkin dilakukan (hitchhiker?). Lalu bagaimana dan seperti apa merencanakan weekend vacation ke Pulau Bali? Mungkin pengalaman saya kemarin bisa sedikit membantu dalam memberikan gambaran, sukur-sukur bisa menjadi tips dan trik selama di Bali.

  1. Langkah yang pertama tentu persiapkan tanggal keberangkatan dan moda transportasi. Semakin lama dari tanggal keberangkatan, tiket keberangkatan dan kembali pesawat atau kereta akan semakin banyak pilihan. Dari Airlines, tarif promo hingga pilihan tempat duduk. Untuk anda yang berburu tiket pesawat, saat ini banyak maskapai penerbangan berbudget rendah yang bisa anda pilih. Seperti Air Asia, atau Tiger Air yang sekarang berafiliasi dengan Mandala. Sayangnya untuk wilayah Indonesia, low budget airlines tersebut sudah mulai menghilangkan pilihan tanpa bagasi yang dapat meminimalisasi harga tiket. Mungkin mereka kapok kali ya dengan tingkah laku kita yang suka mengakali berat beban bawaan di kabin pesawat. Tapi tetap saja website mereka di waktu-waktu tertentu menawarkan promo yang menggiurkan. Masalahnya kalau tanggal berangkat dengan tanggal beli terlalu lama jaraknya, terkadang bisa tidak terlaksana rencana perjalanannya. Ini terutama berlaku bagi anda yang rame-rame beberapa orang ngetrip bareng. Jadi sekali-kali  agak nekad beli untuk jarak dekat bisa dimaklumi, karena terkadang tanpa diduga harga promo atau agak murahan masih tersedia. Yaaah, memang harga tiket tidak bisa diduga kapan datangnya (layaknya cinta sepasang anak manusia #halah)
  2. Dalam perburuan tiket, gadget yang mobile dengan jaringan internet mumpuni sangat diperlukan. Selain memang untuk mencari tiket ke website nya langsung, kita bisa mengikuti perkembangan penawaran2 menarik mereka lewat jejaring media sosial mereka seperti facebook, twitter, path atau instagram. Dan bagi anda yang berencana trip bareng, aplikasi chat seperti whatsapp, we chat, dan line serta kakao talk akan sangat berguna untuk mendiskusikan segala hal. Tanpa bertemu muka bisa merencanakan berbagai hal, tinggal ngumpul waktu keberangkatan di tempat yang ditentukan.
  3. Oke, setelah tiket di tangan, saatnya membuat itenerary plan atau rencana tempat-tempat yang mau dikunjungi selama kurang lebih dua hari dua malam (atau dalam kasus saya dua hari tiga malam). Mr google sangat-lah membantu. Tapi kalau anda kebetulan punya teman yang sudah berpengalaman traveling ke Bali, kenapa tidak minta dia membuat gambaran kasar rencana perjalanan? Tentu saja anda tetap harus rajin browsing ke sana kemari. Semakin sering anda lakukan, anda akan menemukan gambaran lengkap beserta alternatif-alternatif lain sebagai back up.
  4. Persiapkan barang-barang yang anda mau bawa ke dalam tas ransel atau koper. Mengingat perjalanan ini cuman 2-3 hari, ada baiknya kesampingkan koper samsonite anda. Tidak salah sih bawa koper, cuman ransel ukuran sedang akan sangat membantu dalam mobilitas perjalanan. Lagipula akan lebih terlihat muda dan fresh. Perbanyak bahan kaos katun yang nyaman dan menyerap keringat, dan usahakan warna warni yang cerah atau mencolok agar kelihatan bagus dan menarik di foto anda.. Bawa sunblock, minyak kayu putih dan obat pribadi. Celana pendek, kacamata hitam atau sunglasses dan sandal jepit wajib dibawa kalau ke pantai. Barang-barang tersebut memang banyak di Bali, tetapi akan lebih baik kalau anda sudah siap dari awal keberangkatan. Jaket perlu dibawa yaaa.. karena dalam trip ala saya ini kita akan memakai motor dari satu tempat ke tempat yang lain. Pilih yang berwarna putih untuk menolak panas matahari
  5. Setelah semua siap, anda tinggal duduk manis deh menanti waktu keberangkatan. Persiapkan tubuh dengan istirahat cukup dan rajin minum jamu galian singset air putih. Perjalanan nanti akan cukup menguras tenaga. Tubuh yang fit akan memaksimalkan liburan anda


to be continued


Kamis, 13 Juni 2013

Tegal Island, Lampung



Satu lagi destini wisata pantai di Lampung. Bagi yang bosan ke pantai Mutun yang mudah menjadi lautan manusia kala weekend, coba agak menjauh sedikit ke Pantai Ringgung. Walaupun tidak ada arena permainan seperti banana boat layaknya Mutun, tetapi Ringgung menawarkan sensasi lain. Cukup menyewa perahu nelayan dengan tarif negosiable, anda dan teman bisa keliling- keliling sambil menikmati segarnya udara laut. Mau snorkling ke beberapa titik tempat gerombolan iklan berkerumun, atau sekadar jelajah pulau di sebrang, semua terserah anda.

Tempat wisata ini tidak terdapat gerbang wisata yang mencolok. Dari Jalan utama hanya terdapat papan sederhana penanda arah menuju pantai. Telusuri saja jalan setapak dari papan penanda arah tersebut, beberapa












photo: courtesy of @aikkuswanadji please check his ig

btw ini postingan tahun 2013 tetiba masih ada di draft dan kayaknya bagus juga dipost

Selasa, 16 Oktober 2012

Rumah Fatmawati Soekarno




Dapat tugas ke luar kota bisa berarti sekalian jalan-jalan buat saya. Itu pun kalo waktunya tidak habis buat urusan dinas. Seperti Bulan Agustus kemarin, saya dapat surat tugas untuk ikut arisan sosialisasi menggantikan teman. Bukannya sebel tapi saya lumayan excited. Okelah kalo begitu...toh nginep di hotel yang paling bagus se-Bengkulu plus naik pesawat yang terkenal paling gak delay. Tapi teteup di pikiran yang langsung nyantol adalah jalan-jalan plus ketemu sohib yang udah sebulan lama tak jumpa.

Tapi rencana tinggal rencana... Acara demi acara, pertemuan demi pertemuan, padat merayap bak arus lalu lintas Kotabumi Bandung kala weekend. Waah terancam gagal deh list daftar tempat yang mau dikunjungi. Untungnya saya pernah berkunjung ke bumi raflesia ini sebelumnya. Jadi lumayan tahu kalau spot tempat wisatanya cuman seputar dalam kota dan jaraknya cuman sepelemparan kutang batu antara satu dengan yang lainnya.

Lantas, dengan waktu terbatas sore hari sekalian ngabuburit, ke manakah laju mobil pinjaman dari teman dibawa? saya dan rekan memutuskan untuk berwisata sejarah. Tentu saja dalam satu rombongan hanya saya yang lumayan bersemangat memaksa mengajak yang lain. 

Rumah Fatmawati Soekarno adalah tujuan utama sore ini sekalian menunggu beduk maghrib. Yaaah, dulu pas pertama kali berkunjung ke Bengkulu, spot wisata ini terlewat dari daftar kunjungan. Hunian First lady pertama Indonesia ini memang terletak di pusat kota dan gampang ditemukan. Bagaimana tidak? lha wong letaknya berada di jalan Fatmawati dekat dengan bundaran patung kuda di pusat kota. Dan ibarat di Jakarta, Jalan Fatmawati itu bagai Thamrin. Nah...Gedung rumahnya bagaikan Hotel Nikko dari Bundaran HI. Strategis bangget kan? dan cuman 600 meter dari rumah tempat pengasingan Bung Karno pada tahun 1938-1942. Pantes terjadi cinta lokasi..hehe

Lalu ada apa aja di sana? Bagi penyuka sejarah, di rumah ini tersimpan Mesin Jahit alat ibu Fatmawati saat menjahit bendera Sang saka Merah Putih yang berkibar sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Lumayan historik kan si mesin jahit itu... Bangunan rumahnya sendiri sih tipikal rumah panggung yang banyak diketemukan di Sumatera. Dominasi kayu terasa di rumah yang kabarnya replika ini. Selain itu furnitur kayu dan besi seperti dipan, meja rias dan meja tamu tampak masih terpajang. Berbagai foto dan lukisan saat Ibu fatmawati menjadi first lady dan berkunjung ke luar negeri banyak terpajang di semua dinding. yang rada aneh adalah pakaian kebaya dan stelan yang dipajang dengan manekin bertampang bule ala pasar tanah abang. Mbok ya dibikinin patung wax ala madame Tussaud gitu yaa..

Yah..pokoknya jangan lupa berkunjung deh kalo ke Bengkulu..toh kalau tak tertarik dengan wisata sejarah, di sepanjang Jalan Fatmawati ini berderet-deret kios penjual buah tangan khas Bengkulu. Dari jualan khas makanan ringan sampai batik besure' khas daerah setempat walaupun hasil printing pabrik









bonus poto di bawah yaaa...nampang dulu buat bukti pernah kesana..hehe *abaikan muka kusut masai abis seharian dicekoki isi jurnal*


Minggu, 09 September 2012

Candi Plaosan, Keindahan Klaten yang Tersembunyi



Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya mengunjungi candi indah yang dibangun oleh Rakai Pikatan pada abad 9 M ini. Dulu, ayah saya -yang gemar mengajak anak-anaknya jalan akhir pekan- pernah mengajak saya dan saudara berkunjung ke sini. Walau pun terletak di kota Klaten tercinta dan masih sekota, lokasi candi ini agak masuk ke dalam dari jalan utama Jogja-Solo. Tepatnya dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, kabupaten Klaten. Nggak susah kok nemu lokasinya...tinggal melaju ke arah utara dari Candi Prambanan, sekitar 1 KM, sampai deh..nanya orang sekitar juga semua tahu. 




Kompleks Candi Plaosan dibagi menjadi dua yaitu Plaosan Lor dan Plaosan Kidul dan dipisahkan jalan aspal dan berjarak sekitar 100 m. Katanya sih dari udara bentuk persegi dari kedua komplek tersebut sama, makanya disebut candi kembar.

Bagi saya pribadi, Plaosan Lor memang lebih menarik. Selain terlihat mencolok dengan persawahan di sekitarnya, juga memiliki fisik bangunan yang realatif lebih utuh dibanding dengan Plaosan Kidul yang juga terletak di pemukiman penduduk sehingga semakin menenggelamkan keindahannya.

Plaosan Lor sendiri memiliki dua candi utama. Adanya kemuncak stupa, arca Buddha, serta candi-candi perwara (pendamping/kecil) yang berbentuk stupa menandakan bahwa candi-candi tersebut adalah candi Budha. Padahal lokasinya dekat dengan candi Prambanan yang dikenal sebagai Candi Hindu yang sangat cantik dan Termahsyur itu yaa. Tapi arsitektur keseluruhan Candi Zaman Kerajaan Medang atau Mataram Kuno merupakan perpaduan antara Hindu dan Budha


Bagian utara dari Candi Plaosan Lor dipenuhi relief yang menggambarkan tokoh-tokoh wanita. Beda dengan bagian selatan yang ditaburi dengan relief kelelakian. Dan jangan khawatir, secara kasat mata keduanya mempunyai bentuk serupa dan  sama-sama dikelilingi oleh 116 stupa perwara serta 50 buah candi perwara, juga terdapat parit buatan . Jadi buat anda yang ingin bebas berekspresi memotret bisa memilih salah satu candi yang relatif lebih sepi dari pengunjung. Tapi kalau dibandingkan Prambanan yang selalu kebanjiran wisatawan, Plaosan sangat sepi. dan relatif bersih dan tertata rapi dibanding Candi Kalasan. Bagi yang mau postwedding shoot atau foto-foto cover album, dijamin akan memberikan nuansa kuno yang artistik :) . Selain Candi utama, pada bagian utara komplek terdapat selasar terbuka dengan beberapa arca buddhis yang sayang anda lewatkan.

Hijaber's Style with Dian Pelangi Fans :)



Berapa Harga tiket masuk? Ketika saya berkunjung disana, sedang diadakan renovasi di beberapa bagian candi sehingga terkesan kurang welcome dengan turis. Selain tak ada loket masuk yang jelas, minim sekali dengan pusat informasi mengenai candi. Jadi tak ada kejelasan mengenai loket masuk. Hanya ada semacam petugas berbaju satpam yang meminta uang Rp.5000,- seorang. Itu pun kelihatan tidak resmi dengan tidak adanya tiket masuk dalam lembaran kertas. Parkir tersedia di dekat candi arah jalan ke Plosan Kidul. Jangan kaget dengan adanya ibu-ibu yang mendadak muncul ketika anda mau pergi meninggalkan lokasi dan meminta parkir sebesar Rp.5.000,- Kali ini ada bukti parkir secarik kertas, walaupun tidak resmi kelihatannya

Semoga dengan adanya renovasi yang sedang terjadi, membuat mahakarya budaya mataram kuno ini semakin baik dan terpelihara ke depannya.




sumber info: Wikipedia

Minggu, 03 Juni 2012

Tas yang Tertukar

 Kehilangan tas atau barang bawaan di bagasi pesawat memang menyebalkan. Saya sendiri sih belum pernah dan tidak berharap terjadi pada saat saya terbang via maskapai mana pun. Tapi bagaimana kalau yang hilang barang bawaan di dalam kabin atau tas yang ditaruh di locker yang terdapat di atas kursi? Saya pernah mengalaminya dan itu sungguh merepotkan.

Kehilangan tas ransel warna hitam itu terjadi tahun lalu ketika saya berada di Bandara Adisucipto Yogyakarta setelah menempuh sekian jam perjalanan transit Bandar Lampung- Yogyakarta dengan maskapai bernama salah satu kerajaan tempo dulu di Sumatra. Begitu pesawat landing dengan sempurna, biasanya penumpang akan buru-buru berdiri dan mengambil barang bawaan untuk kemudian antri menuju pintu keluar. Saya yang duduk di window seat merasa tak perlu bersegera keluar karena saya pikir toh tak akan lama. Begitu keadaan sepi saya pun berusaha untuk mengambil tas ransel hitam di  locker kabin atas kursi. Dan kagetlah ketika si tas andalan tak ada, dan  yang tertinggal hanyalah tas ransel hitam yang entah milik siapa.

Analisa saya cuman satu. Si pemilik tas yang tertinggal ini pasti salah mengambil tas ransel yang sekilas memang mirip dengan punyanya. Dalam keadaan seperti ini berpanik-panik ria sangatlah tidak membantu. Saya pun langsung turun dan menghubungi petugas untuk melaporkan kejadian ini. Untungnya para petugas siap siaga membantu dan berusaha dengan cepat menyebar untuk mencari penumpang yang masih ada di bandara dan terlihat membawa tas ransel hitam yang mirip. Tapi analisa saya ini bisa salah karena dalam pesawat yang sama juga terdapat beberapa penumpang yang cuman transit tiga puluh menit di Jogja yang kemudian akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya.

Sayangnya hasilnya nihil dan tidak juga tertukar dengan penumpang Surabaya. Saya memang tidak menyalahkan petugas bandara atau kru pesawat karena memang murni bukan kesalahan mereka layaknya ketika barang hilang atau tertukar dalam bagasi karena ini memang barang bawaan di kabin. Ya sudahlah, pasrah saja sembari menunggu sebentar dan berharap penumpang yang salah bawa tadi kembali ke bandara untuk menukar barangnya. Malam yang semakin larut dan capek yang mendera membuat saya menyerah dan mengisi laporan di bagian lost and found dengan menitipkan tas yang tertukar tadi ke petugas dan tak lupa meninggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi sewaktu-waktu. Lagipula isi tas saya hanya baju show dari daging dan keperluan harian lain yang tidak bisa dinilai sebagai barang berharga. Mungkin bernilai lebih ke kenangannya karena tas itu hadiah dari selingkuhan atasan saya

Tengah malam ketika saya sudah siap untuk tidur, tiba-tiba saya dikagetkan dengan adik yang sedang berbicara dari telepon selular ayah. Ternyata itu berasal dari penumpang yang salah bawa tadi. Saya pun terheran-heran. Bagaimana mungkin yang dihubungi adalah nomor ayah, sementara yang ditinggalkan di bandara adalah nomor saya sendiri. Keheranan bertambah karena ia menelpon bukan dari bandara melainkan dari rumah saudaranya dan tas saya memang tidak ada identitas pemiliknya sama sekali.

Singkat cerita setelah janjian ketemu di bandara keesokan harinya, saya mendapat kembali tas ransel hitam andalan itu. Keheranan pun terhapus ketika mas-mas yang bepergian ke Jogja untuk suatu acara sesama pemilik mobil VW ini menjelaskan kronologis sampai bisa menelpon ke nomor ayah saya. Rupanya ia menemukan sim card bekas di salah satu kantong ketika ia berusaha menemukan identitas pemilik di tas. Ada beberapa nomor di sim card itu dan hanya kontak bernama "DAD" yang bisa dihubungi. Ia dengan sungguh-sungguh meminta maaf karena telah salah mengambil tas tanpa meneliti terlebih dahulu akibat lelah setelah seharian menempuh perjalanan dari Belitung. Walau pun musti balik lagi ke bandara yang berjarak sekitar setengah jam dari rumah, saya senang dan lega karena tas telah kembali.

Moral Story: Berilah identitas pada bawaan atau tas anda dalam suatu perjalanan sehingga kalau ditemukan orang lain akan memudahkan dalam proses pengembalian. Kalau diperhatikan, kebanyakan tas atau koper yang dijual di pasaran terdapat label atau isian identitas pemilik yang dijahit menyatu atau berbentuk kartu terpisah. Tas saya yang tertukar pun ternyata ada label tersebut. Karena menyepelekan hal tersebut dengan tidak mengisinya, sang penemu tas saya tidak berhasil menemukan identitas pemilik. Beruntung ada simcard yang ditemukan dan terdapat kontak yang bisa dihubungi. Kebetulan kontak tersebut adalah ayah saya dan diterima oleh adik ketika dihubungi. Kebetulan lagi karena ayah dan adik lah yang malam itu menjemput di bandara dan tahu kejadian tas saya yang tertukar, sehingga tidak kebingungan ketika malam-malam ada penelpon tak dikenal yang mengaku memiliki putri tas yang tertukar.


Kamis, 10 Mei 2012

Oleh-oleh Cerita dari 8 Negara


Di zaman yang semakin maju ini, traveler semakin dimanjakan dengan berbagai kemudahan. Mulai dari bertebarannya berbagai tiket murah penerbangan ke berbagai tujuan wisata, kemudahan mencari informasi via internet, hingga akses mudah booking ini booking itu dalam urusan penginapan dan tiket masuk suatu pertunjukan. Bahkan kartu kredit juga mempermudah keinginan dari traveler yang gede keinginan tapi tipis isi kantong dengan berbagai penawaran promo andalan. Bisa dicicil pula. Menggiurkan bukan?

Budaya melancong yang semakin eksis ini bisa dilihat pula apabila anda berkunjung ke toko buku. Buku-buku traveling bertambah memenuhi rak dari waktu ke waktu. Mulai dari yang memakai embel-embel nominal sekian bisa berapa hari ke negara tertentu tepu-tepu deh tentunya, hingga kisah perjalanan yang dibalut dalam bentuk novel romansa.

Oleh-oleh Cerita dari 8 Negara ini saya temukan dalam suatu tumpukan rak di bazaar murah buku di kota Metro. Sebenarnya saya tidak berniat membelinya karena sudah agak bosan dengan buku sejenis ini yang lumayan banyak menumpuk di sudut rak buku pribadi (The Journeys 2 adalah buku terakhir yang saya baca). Selain itu buku ini pun bukan dari penerbit terkenal dan belum pernah terdengar ataupun terlihat di rak bestseller di toko buku yang pernah saya kunjungi. Tapi melihat buku tipis murah meriah di bazaar buku, tak tahanlah tangan ini mencomot dan menjinjingnya ke kasir. Kalau pun ternyata bukunya gak asyik, ya gak rugi-rugi amatlah yaaa.

Ternyata oh ternyata, buku ini sik asik teman-teman :p. Baca sambil lalu sebelum tidur, 167 halamannya langsung habis terbaca. Bahasanya ringan sederhana layaknya Naked Traveler nya Trinity yang fenomenal itu. Lucy sang penulis seakan-akan bercerita dengan jujur dan mengalir tentang apa yang ditemuinya dalam perjalanan

Apa yang menjadi poin lebih dari buku ini? selain menyajikan suatu cerita perjalanan dari suatu angle cerita , misalnya ada bagian membahas tentang teman seperjalanan, bagian lain tentang perbandingan pemeriksaan imigrasi, dan bagian-bagian yang tak kalah menarik lainnya. Buku dengan gaya bercerita seperti ini lebih saya sukai daripada sekedar laporan perjalanan dari titik A ke titik B. Selain itu, Lucy juga menulis semacam hikmah atau moral story dari setiap kepingan cerita. kita pun bisa manggut-manggut setuju setiap ending dari suatu cerita. Dan bagi saya pribadi, 8 negara yang disebut dalam buku ini masih cukup affordable bagi orang yang berniat traveling ke luar negeri tingkat pemula coba-coba dengan budget kere seperti saya.

Overall, oke banget deh buku ini...di luar ekpektasi. so, don't judge a book by its cover, publiser or whatever before you read it..hehe.

Judul: Oleh-oleh Cerita dari 8 Negara
Penulis: Lucy
Penerbit: Leutika, 2010. Yogyakarta
Beli di: Bazaar Buku Murah di Perpustakaan Umum Metro. Rp.15.000,- 5 Mei 2012

p.s: the picture is taken at "Bundaran HI-nya Lampung Utara" di suatu pagi ketika di sekitarnya macet akibat antrian BBM di SPBU, 8 Mei 2012

Sabtu, 31 Maret 2012

Palembang Part 2 of 2

1. Dian Pelangi



 Salah satu desainer baju muslim yang sedang happening di kalangan anak muda adalah Dian Pelangi. Bersama dengan teman-temannya, dia membentuk perkumpulan Hijabers community, suatu komunitas muslimah yang terdiri dari anak-anak muda yang berorientasi pada pembelajaran Islam tetapi tetap fashionable. 

Ketika sedang mengantar teman ke notaris di daerah dekat Novotel Palembang, terlihatlah sebuah plang informasi lokasi Butik Dian Pelangi dalam suatu kompleks perumahan. Setelah urusan teman selesai,  kami mampir ke dalam butik. Agak masuk ke dalam kompleks, tetapi gampang ditemukan. Dari luar tampak muka hanyalah Rumah tempat tinggal biasa.

Setelah masuk ke dalam, kesan yang saya dapat adalah gaya etnik tradisional yang tercipta dari display jualan serta koleksi busana yang ditawarkan. Dian Pelangi memang mengandalkan produk asli Indonesia dalam setiap rancangannya. Batik, Jumputan, dan songket adalah jualan utama.

Sayangnya ketika saya meminta izin buat jeprat-jepret, seorang bapak setengah tua yang rupanya supervisor butik itu dengan tidak ramah menolaknya. Dan raut muka si bapak agak berubah mencair setelah kami mengambil beberapa barang dan membayarnya. Entahlah, mungkin dari penampilan kami yang selintas mirip anak sekolah tak berduit yang hanya melihat-lihat tanpa beli membuat si bapak malas dan kurang respek. Hal yang sangat kami sesali dan membuat saya buru-buru dalam membelanjakan sejumlah rupiah. Terlepas dari hal itu, Dian Pelangi adalah Butik yang patut dibanggakan karena konsisten mengangkat para perajin  kain tradisional sekaligus melestarikan budaya asli kebanggaan negeri

Dian Pelangi, Jl R.Sukamto, Permata Griya E2 Palembang


selendang jumputan motif pelangi

selendang buat fansnya blog dian pelangi
batik tulis pekalongan
2. Pulau Kemaro



Berkunjung ke Palembang, tiada lengkap tanpa mengunjungi Pulo Kemaro. Pulo Kemaro berarti Pulau Kemarau dalam Bahasa Palembang. Dinamakan demikian karena pulau ini selalu dalam keadaan kering atau kemarau, walau pun sungai Musi yang mengelilinginya dalam keadaan meningkat.

Cara mencapai tempat ini adalah dengan menaiki semacam kapal tongkang dari benteng kuto besak. Kapal ini bertarif sekitar Rp.100.000,- satu kapal. perjalanan dalam kapal sekitar 20-30 menit. Tarif ini bisa berubah sekitar Masa Cap Go Meh, ketika Umat Budha merayakan secara meriah di pulau ini


Apa yang bisa ditemui di Pulau ini?  Pada hari biasa, kita hanya akan menjumpai tempat beribadah Umat Budha, lengkap dengan bau dupa yang khas ditemui di tempat semacam ini. Sebuah Pagoda bertingkat 9 dengan ketinggian 40 meter tampak menjulang menjadi pusat perhatian. Pagoda ini akan semakin spektakuler ketika Cap Go Meh tiba, karena terang benderang bermandikan cahaya lampu. Ya, Puncak Perayaan Hari Raya Tahun Baru Imlek tersebut akan selalu ditunggu-tunggu bukan hanya kaum Budha, tetapi juga serombongan pedagang makanan atau sekumpulan fotografer yang berusaha memburu gambar-gambar indah untuk dipamerkan.

Tiba disana sehari sebelum Imlek, membuat saya hanya bisa merasakan semacam pre-party dari Cap Gomeh. Tukang-tukang sibuk mendandani tempat itu. Berpuluh-puluh Lampion merah cantk pun turut terpasang. Tempat Peribadatan otomatis tertutup dalam persiapan itu. Saya hanya bisa memotret dari Jendela. Tapi hal itu sudah cukup buat saya. Melihat Pagoda tinggi menjulang bagaikan melihat pagoda tempat Si Ular Putih dipenjara dalam serial White Snake Legend yang saya nikmati waktu Ibtidaiyah.

Mau yang lebih dramatis? Alkisah ada semacam urban legend asal mula berdirinya Pulau ini. Kisah Cinta memilukan tentang Putri Sriwijaya bernama Siti Fatimah dengan Pemuda Perantauan dari Tiongkok bernama Tan Bun An.



Tan Bun An berniat mempersunting Fatimah. Ayah Fatimah menyetujui dengan syarat 9 guci emas. Keluarga Tan Bun An pun menyediakan 9 guci emas dan menutupi bagian atas guci dengan sayur mayur karena takut dengan perompak di tengah perjalanan. Ketika sampai di Sriwijaya, Tan bun An membuka salah satu guci dan kaget melihat sayur mayur. Tanpa memeriksa lebih lanjut, dibuanglah guci-guci tersebut ke Sungai Musi. Ketika ada salah satu Guci yang pecah ketika dilemparkan ke sungai Musi dan menampakkan kepingan emas di dalamnya, menyesallah si Tan Bun An. Ia menceburkan diri dalam sungai Musi. Siti Fatimah pun turut menceburkan diri sembari berkata, "Apabila ada gundukan tanah yang muncul di sungai ini, maka itulah kuburan saya". Dan muncullah Pulau Kemaro setelah tragedi itu.

Percaya tidak percaya, cerita ala Romeo Juliet tersebut menjadi cerita rakyat yang memperkaya khasanah budaya Palembang, dan bisa dipakai untuk keperluan meningkatkan potensi parawisata. Jangan lupa membawa bekal makanan, karena tersedia gubuk-gubuk untuk sekedar melepas lelah sambil menikmati pemandangan anak-anak kecil bermain bola seperti yang saya jumpai siang itu. Apabila lupa bawa, pedagang makanan kecil pun tersedia di sana.






3. Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I


Masjid ini dikenal dengan nama Masjid Agung Palembang. Terletak di pusat kota, anda bisa menjalankan ibadah Sholat sekaligus beristirahat sejenak di rumah-Nya yang megadopsi arsitektur campuran China, Eropa, dan Jawa ini. Air Mancur  ala Bundaran HI-nya Palembang terletak di samping (atau di tengah ya?) Bangunan Masjid. Tinggal melangkah tanpa menyebrang sampai. Selain itu, Jembatan Ampera pun cuman sepelemparan batu dari sini.

Ambil Wudhu bagi laki-laki tersedia di kolam yang dipasangi keran-keran di banyak titik melingkari kolam tersebut. Saya yang sempat merasakan Sholat Jumat di sana, kagum terhadap berbagai ornamen yang didominasi warna hijau dan emas. Sungguh salah satu masterpiece masjid agung di Indonesia