Tampilkan postingan dengan label style. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label style. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 September 2012

Candi Plaosan, Keindahan Klaten yang Tersembunyi



Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya mengunjungi candi indah yang dibangun oleh Rakai Pikatan pada abad 9 M ini. Dulu, ayah saya -yang gemar mengajak anak-anaknya jalan akhir pekan- pernah mengajak saya dan saudara berkunjung ke sini. Walau pun terletak di kota Klaten tercinta dan masih sekota, lokasi candi ini agak masuk ke dalam dari jalan utama Jogja-Solo. Tepatnya dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, kabupaten Klaten. Nggak susah kok nemu lokasinya...tinggal melaju ke arah utara dari Candi Prambanan, sekitar 1 KM, sampai deh..nanya orang sekitar juga semua tahu. 




Kompleks Candi Plaosan dibagi menjadi dua yaitu Plaosan Lor dan Plaosan Kidul dan dipisahkan jalan aspal dan berjarak sekitar 100 m. Katanya sih dari udara bentuk persegi dari kedua komplek tersebut sama, makanya disebut candi kembar.

Bagi saya pribadi, Plaosan Lor memang lebih menarik. Selain terlihat mencolok dengan persawahan di sekitarnya, juga memiliki fisik bangunan yang realatif lebih utuh dibanding dengan Plaosan Kidul yang juga terletak di pemukiman penduduk sehingga semakin menenggelamkan keindahannya.

Plaosan Lor sendiri memiliki dua candi utama. Adanya kemuncak stupa, arca Buddha, serta candi-candi perwara (pendamping/kecil) yang berbentuk stupa menandakan bahwa candi-candi tersebut adalah candi Budha. Padahal lokasinya dekat dengan candi Prambanan yang dikenal sebagai Candi Hindu yang sangat cantik dan Termahsyur itu yaa. Tapi arsitektur keseluruhan Candi Zaman Kerajaan Medang atau Mataram Kuno merupakan perpaduan antara Hindu dan Budha


Bagian utara dari Candi Plaosan Lor dipenuhi relief yang menggambarkan tokoh-tokoh wanita. Beda dengan bagian selatan yang ditaburi dengan relief kelelakian. Dan jangan khawatir, secara kasat mata keduanya mempunyai bentuk serupa dan  sama-sama dikelilingi oleh 116 stupa perwara serta 50 buah candi perwara, juga terdapat parit buatan . Jadi buat anda yang ingin bebas berekspresi memotret bisa memilih salah satu candi yang relatif lebih sepi dari pengunjung. Tapi kalau dibandingkan Prambanan yang selalu kebanjiran wisatawan, Plaosan sangat sepi. dan relatif bersih dan tertata rapi dibanding Candi Kalasan. Bagi yang mau postwedding shoot atau foto-foto cover album, dijamin akan memberikan nuansa kuno yang artistik :) . Selain Candi utama, pada bagian utara komplek terdapat selasar terbuka dengan beberapa arca buddhis yang sayang anda lewatkan.

Hijaber's Style with Dian Pelangi Fans :)



Berapa Harga tiket masuk? Ketika saya berkunjung disana, sedang diadakan renovasi di beberapa bagian candi sehingga terkesan kurang welcome dengan turis. Selain tak ada loket masuk yang jelas, minim sekali dengan pusat informasi mengenai candi. Jadi tak ada kejelasan mengenai loket masuk. Hanya ada semacam petugas berbaju satpam yang meminta uang Rp.5000,- seorang. Itu pun kelihatan tidak resmi dengan tidak adanya tiket masuk dalam lembaran kertas. Parkir tersedia di dekat candi arah jalan ke Plosan Kidul. Jangan kaget dengan adanya ibu-ibu yang mendadak muncul ketika anda mau pergi meninggalkan lokasi dan meminta parkir sebesar Rp.5.000,- Kali ini ada bukti parkir secarik kertas, walaupun tidak resmi kelihatannya

Semoga dengan adanya renovasi yang sedang terjadi, membuat mahakarya budaya mataram kuno ini semakin baik dan terpelihara ke depannya.




sumber info: Wikipedia

Sabtu, 11 Agustus 2012

Batik on Denim, Cara Lazuli Sarae Memperkenalkan Warisan Budaya Kepada Generasi Muda





Saat ini batik telah kembali populer di Indonesia. Salah satu pendorong euforia cinta batik ini adalah sejak UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 menyatakan bahwa Batik merupakan Masterpiece of Oral Ingatable Heritage of Humanity dan menetapkannya sebagai budaya Indonesia. Tentu saja hal ini baik, mengingat batik sebelumnya agak terlupakan dan dianggap kuno bagi generasi muda. Lalu langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan agar semangat cinta batik ini tetap terjaga terutama pada generasi muda yang notabene adalah penerus pelestari budaya bangsa?





Mungkin apa yang dilakukan Lazuli Sarae adalah salah satu langkah tepat untuk memperkenalkan batik pada masyarakat, terutama generasi mudanya. Apa itu Lazuli Sarae? Saya mengenalnya ketika melihat tayangan show "Bukan Empat Mata" di televisi beberapa waktu yang lalu. Lazuli Sarae adalah brand pakaian yang mengusung Batik sebagai andalan mereka dalam setiap itemnya. Lebih unik lagi, batik tersebut diaplikasikan pada bahan pakaian yang sangat akrab dengan keseharian anak muda, yaitu denim. Istilah Batik on Denim sangat tepat untuk disematkan pada brand yang bermarkas di Bandung ini. Dengan kata lain, Batik on Denim adalah jenis bahan pakaian yang memadukan budaya lokal dengan budaya kontemporer barat yang menghasilkan produk khas terkini tanpa meninggalkan identitas asli bangsa sendiri

Lazuli Sarae mempunyai misi: Local Value, Modern Spirit. Hal tersebut diwujudkan dengan menciptakan bisnis kreatif baru untuk memperkaya koleksi tekstil Indonesia. Berbagai jenis produk yang telah mereka hasilkan sangat variatif. Pria atau wanita dapat memilih varian produk sesuai yang mereka inginkan. Mulai dari jaket yang elegan, hingga sepatu ankle boot yang modis dan trendy.

Shin Cinereo Shirt


Setiap produk Lazuli Sarae terdapat motif batik yang dituangkan dengan teknik traditional wax resist-dye. Rangkaian koleksi terbaru dihasilkan dengan desain yang modern sekaligus stylish bagi penggunanya. Tengok saja Shin Cinereo Shirt favorit saya dari koleksi terbaru The Story Of Aosan. Keren sekali bukan? Motif parangnya yang eksklusif memberi kesan gagah bagi pemakainya. Dapat saya bayangkan pujian teman apabila saya pakai ke kantor pada hari Selasa atau Jumat yang memang hari wajib untuk memakai batik :)). Apabila disuruh memilih dua item, di samping Shin Cinereo Shirt, Cinereo Mini Cape juga saya taksir sebagai hadiah kepada adik yang juga gemar memakai batik. Tentu ia akan sangat suka dengan model uniknya dan pasti akan menjadi outfit andalan terbaru ketika pergi ke kampus.

Cinereo Mini Cape

Dari melihat berbagai pilihan produk Lazuli Sarae di situsnya, terpikir untuk memakai desain Batik on Denim rancangan sendiri yang pernah saya wujudkan dalam bentuk kemeja batik katun. Kemeja lengan pendek ini dilengkapi dengan capuchon seperti tipe insignis chapuchon shirt, hanya saja dapat dilepas dengan kancing sebagai penghubungnya. Desain ini saya beri nama Man Detachable Capuchon Shirt. Lumayan ya? hehe.

Man Detachable Capuchon Shirt by bee in da club



Lazuli Sarae adalah salah satu bentuk kepedulian terhadap budaya bangsa. Berbagai produknya membuat penggunanya tetap merasa up to date tanpa meninggalkan ciri budaya lokal. Semoga brand ini akan menjadi besar di kemudian hari, bahkan dapat mendunia dan memperkenalkan batik sebagai identitas kebanggaan Indonesia

sumber gambar: lazulisarae.com

catatan: postingan ini untuk lomba artikel by Lazuli Sarae :)

Kamis, 03 Maret 2011

The Beauty of Prambanan : Hijabers Style










Stylist: Ms. Rufaidah
Wardrobe: Ms Aisah Q
Make Up: Ms Nisaa'
Location: Prambanan Temple, Klaten Central Java Indonesia
Visit Klaten, The Shine of Java